
Artikel · 1961
Pendidikan para penonton film
Basis
Ringkasan otomatis
Artikel ini berpendapat bahwa film adalah seni tersendiri yang memadukan unsur sastra, drama, dan lukis, serta berpengaruh luas sebagai kebudayaan rakyat karena tiketnya murah. Dick Hartoko menyoroti sikap pasif penonton muda yang tidak diajari membaca bahasa gambar, berbeda dengan pendidikan sastra di sekolah. Ia mengusulkan regu pendidik dan ahli film di tiap kota yang menerbitkan lembaran keterangan bagi murid sekolah menengah, dibahas guru, lalu diuji lewat tanya-jawab.
Dibuat dengan AI dari halaman-halaman awal teks OCR dan belum diperiksa, jadi bisa keliru.
Cuplikan, halaman 2
Alasan? para pendidik tersebut jaitu: seorang penonton film hanja setjara pas menikmati apa jang dipertundjukkan, aktipitet dari penonton ampir tidak diminta: sambil duduk selama dua djam dalam suatu ruangan jang selap kita ikuti sadja apa jang disorotkan pada lajar putih. Maka dengan demikian seorang pemuda kehilangan kegiatan rohaninja, mendjadi malas untuk menikmati hasil? kesenian lainnja, apalagi untuk mentjiptakannja sendiri. Bahwa sekarang ini banjak pemuda-pemudi…
Semua 4 halaman dan teks lengkapnya terbuka untuk pendukung Langka, mulai Rp15.000 per bulan.
Dukung dan baca versi lengkapnyaSitasi
Dick Hartoko. (1961). Pendidikan para penonton film. Langka Archive (LGK-27917).
Orang